29 November 2025 | 20.09
Potretpos.Madiun_Konflik internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam beberapa pekan terakhir menimbulkan kegelisahan di kalangan ulama daerah dan para pengasuh pesantren. Mereka menilai perseteruan antar-elite dapat mengancam keutuhan jam’iyah terbesar di Indonesia itu jika tidak segera diselesaikan melalui jalan islah.

Gejolak yang terjadi di PBNU bermula dari keluarnya keputusan terkait pemberhentian Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Keputusan tersebut kemudian ditolak oleh Gus Yahya karena dianggap tidak sesuai mekanisme konstitusional yang tertuang dalam AD/ART organisasi. Situasi ini menyulut reaksi dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Madiun.
Di Kabupaten Madiun, sejumlah ulama kampung dan pengasuh pesantren mulai menyampaikan seruan damai agar NU kembali bersatu. Salah satunya adalah KH. Wasis Ayib Rosidi, pengasuh Pondok Roudhotu Huffadzil Qur’an, Geger, Madiun, yang menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi tersebut.
“NU ini payung besar umat. Kalau di atas pecah, yang di bawah ikut bingung. Jangan sampai jamaah di kampung-kampung ikut retak hanya karena perbedaan di tingkat elite,” ujar Kyai Wasis dalam wawancara, Kamis (28/11).

Beliau menegaskan bahwa nilai utama NU adalah persatuan, musyawarah, dan kedewasaan dalam menyelesaikan masalah. Karena itu ia berharap semua pihak di PBNU, menahan diri dan membuka ruang dialog.
“Kami para kiai kampung hanya ingin NU tetap satu. Jalan terbaik adalah islah. Duduk bersama, bicara dari hati ke hati, dan kembali pada khidmah untuk umat, bukan pada perebutan posisi,” imbuhnya.
Kyai Wasis menilai bahwa situasi saat ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Menurutnya, jamaah NU di desa-desa sangat bergantung pada stabilitas organisasi sebagai pegangan dalam kegiatan keagamaan, sosial, hingga pendidikan.
“Santri dan masyarakat itu melihat ulama sebagai panutan. Kalau elite NU berselisih, efeknya sangat terasa di bawah. Karena itu kami meminta agar para tokoh sepuh dan ulama kharismatik turun tangan mengawal proses islah,” tegasnya.
Sejumlah kiai di Madiun juga menyampaikan bahwa jalur musyawarah adalah ciri khas NU yang tidak boleh hilang. Mereka mengingatkan bahwa NU didirikan untuk menjaga wasathiyah (moderasi), tasamuh (toleransi), dan ukhuwah, bukan untuk mempertajam perbedaan.
Para ulama pedesaan berharap penyelesaian konflik ini dapat mengembalikan fokus NU pada penguatan pendidikan pesantren, kegiatan sosial-keagamaan, dan peran kebangsaan.
“NU itu tempat umat berlindung. Jangan sampai wajah NU tercoreng hanya karena konflik struktural. Kami mohon semua pihak kembali sadar bahwa amanah umat jauh lebih besar dari kepentingan jabatan,” kata Kyai Wasis menutup pernyataan.
Dengan terus mengemuka¬nya suara-suara islah dari berbagai daerah, para kiai kampung berharap PBNU dapat segera menemukan titik temu sehingga NU tetap menjadi rumah besar yang teduh bagi seluruh jamaah di Indonesia.
kontributor : Gus Ayyib
Editor : M Nasir
















